Liputan07 | Banda Aceh — Dinas Pendidikan Dayah Aceh memberikan klarifikasi terkait sorotan terhadap pengadaan Al-Qur’an dan kitab senilai Rp50,53 miliar yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus (Otsus) Aceh. Pengadaan tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan pembelajaran 36.171 santri pada 286 dayah di Aceh.
Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin, melalui Kepala Bidang Manajemen Sarana dan Prasarana sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Lian Sofyan, menjelaskan bahwa program penyediaan Al-Qur’an dan kitab merupakan bagian dari dukungan Pemerintah Aceh terhadap keberlangsungan pendidikan dayah.
“Program ini pada prinsipnya merupakan bentuk perhatian Pemerintah Aceh untuk mendukung keberlangsungan pendidikan dayah, khususnya dalam membantu tersedianya bahan pembelajaran yang dibutuhkan para santri,” kata Lian kepada redaksi, Jumat. (4/9/2026) kemarin.
Menurut Lian, penerima manfaat program tersebut berkisar pada tiga jenjang pendidikan dayah, yakni Ula, Wustha dan Ulya. Dari 36.171 santri yang menjadi sasaran, sebanyak 26.382 santri merupakan jenjang Ula, 5.917 santri jenjang Wustha dan 3.872 santri jenjang Ulya.
Jumlah tersebut, kata dia, bukan seluruh santri yang berada di Aceh. Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Pendidikan Dayah Aceh, jumlah santri dayah di Aceh mencapai 252.933 orang.
“Jumlah santri kita sangat besar. Oleh karena itu, program ini tentu belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan santri di Aceh. Namun, kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi santri dan dayah yang menjadi penerima,” ujarnya.
Lian mengatakan kebutuhan Al-Qur’an dan kitab menjadi salah satu bagian penting dalam proses pembelajaran di dayah. Kondisi ekonomi santri yang beragam juga menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam memberikan dukungan terhadap ketersediaan bahan pembelajaran.
Program tersebut juga diarahkan untuk memberikan dukungan kepada sejumlah dayah yang berada di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi dan banjir yang terjadi pada November 2025.
“Bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Aceh tidak hanya berdampak pada kehidupan masyarakat dan sarana fisik, tetapi juga terhadap aktivitas pendidikan. Oleh karena itu, dukungan terhadap kebutuhan pembelajaran santri, termasuk penyediaan Al-Qur’an dan kitab, menjadi bagian dari perhatian pemerintah agar proses pendidikan tetap berjalan,” jelas Lian.
Klarifikasi Soal Harga
Menyanggapi sorotan mengenai harga sejumlah kitab yang dibandingkan dengan harga di pasar, Lian mengatakan Dinas Pendidikan Dayah Aceh telah melakukan proses perencanaan dan pengumpulan informasi harga sebelum pengadaan dilaksanakan.






