Jambore Aksara Lahirkan Generasi Muda Pecinta Bahasa Aceh

Ketua Penanggung Jawab Umum Jambore Aksara, Yulfan, mengatakan bahwa bahasa dan sastra Aceh merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya telah menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Aceh, termasuk pada masa Perang Aceh melawan Belanda.

“Sastra pernah menjadi media yang membangkitkan semangat perjuangan rakyat Aceh. Salah satu karya yang sangat dikenal adalah *Hikayat Prang Sabi*, yang mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajah,” katanya.

Yulfan menjelaskan bahwa Jambore Aksara tahun ini diikuti sekitar 40 pelajar dari 15 SMA dan SMK di Aceh. Kegiatan ini juga melibatkan sekitar 20 mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Universitas Syiah Kuala (USK), dan Universitas Abulyatama (UNAYA).

Selama dua hari, peserta mempelajari sastra Aceh, aksara Aceh, serta lima tanda diakritik dalam penulisan bahasa Aceh. Mereka juga mengikuti berbagai kegiatan seni dan budaya, seperti pertunjukan Rapa’i Geleng, tari kreasi, musikalisasi puisi, pembacaan *meucai*, hingga pembacaan hikayat.

Yulfan menyampaikan apresiasi kepada Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra yang telah memberikan dukungan melalui program bantuan pemerintah sehingga kegiatan Jambore Aksara dapat terlaksana dengan baik.

“Kami berharap DPRK Aceh Besar terus mendukung lahirnya ruang-ruang berkesenian seperti ini. Generasi muda membutuhkan lebih banyak wadah untuk belajar, berkarya, serta mengekspresikan diri melalui seni, sastra, dan budaya Aceh,” tutupnya.

Pos terkait