Selain itu, Irwansyah juga mengajak mahasiswa perantau untuk menjadikan Banda Aceh sebagai rumah kedua mereka, selain kampung halaman.
“Artinya rumah ini harus dijaga. Ketika ada gotong royong, kita ikut. Ketika ada yang kurang, kita rapikan bersama-sama. Karena ini rumah kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketika ada sesuatu yang tidak tepat di Banda Aceh, maka seluruh masyarakat, termasuk mahasiswa perantau, harus ikut bertanggung jawab memperbaikinya.
Irwansyah juga mengajak mahasiswa membantu Pemerintah Kota Banda Aceh, DPRK Banda Aceh, serta Wali Kota Banda Aceh dalam memperbaiki berbagai kekurangan yang ada di kota tersebut.
Di akhir sambutannya, Irwansyah membacakan firma Allah, ‘Wa man yuhaajir fii sabiilillaahi yajid fil ardhi muraaghaman katsiiran wa sa‘ah.’, yang artinya Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. (QS. An-Nisa: 100)
Menurutnya, merantau untuk menempuh pendidikan juga termasuk bagian dari perjuangan di jalan Allah. Begitu pula orang-orang yang meninggalkan kampung halaman untuk mencari rezeki.
Karena itu, ia meminta para mahasiswa agar memaksimalkan kesempatan merantau untuk belajar dan mengembangkan diri.
Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 150 peserta yang terdiri dari pengurus serta mahasiswa-mahasiswi asal Samatiga, Aceh Barat.(*)






