Pemerintah daerah masih melakukan pendataan, namun kerugian material diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Sebagai langkah cepat, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara bersama BPBD telah membuka posko darurat dan pos pengungsian di sejumlah titik aman. Distribusi logistik dasar seperti makanan siap saji, air bersih, obat-obatan, serta selimut telah dilakukan secara bertahap.
Evakuasi warga juga dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, relawan, dan masyarakat. Petugas ditempatkan di kawasan rawan banjir susulan untuk memastikan keselamatan warga.
BMKG Malikussaleh kembali mengingatkan bahwa cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan, termasuk ancaman banjir rob di wilayah pesisir Aceh Utara. Masyarakat diminta tetap waspada dan memantau informasi resmi.
Menanggapi situasi tersebut, Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM), Mayor Jenderal TNI Joko Hadi Susilo, S.I.P., menyampaikan bahwa pihaknya telah menginstruksikan seluruh jajaran TNI di wilayah Aceh untuk segera turun membantu pemerintah daerah dalam penanganan banjir Aceh Utara.
“TNI harus hadir di tengah masyarakat yang sedang kesulitan. Seluruh prajurit di jajaran Kodam IM saya perintahkan untuk bergerak cepat membantu evakuasi, distribusi bantuan, dan pengamanan wilayah rawan,” tegas Pangdam IM.
Beliau menambahkan bahwa Kodam IM telah menyiagakan Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (PRCPB) untuk menghadapi situasi darurat dan kontinjensi di seluruh wilayah Aceh. Batalyon Komposit PRCPB Kodam IM dipersiapkan untuk bertindak cepat, tepat, dan terkoordinasi dalam membantu penanganan bencana alam.
“Pasukan ini merupakan ujung tombak dalam pengecekan kesiapan satuan Kodam IM untuk memastikan respons bencana dapat dilakukan secara sigap dan profesional,” ujar Mayjen Joko Hadi Susilo.
Ia menekankan bahwa penanggulangan bencana merupakan salah satu tugas pokok TNI yang diamanatkan undang-undang, yaitu membantu pemerintah daerah dalam bidang kemanusiaan dan respons bencana. Namun demikian, TNI tidak dapat bekerja sendiri.
“Penanganan bencana membutuhkan kerja sama solid seluruh komponen bangsa—TNI,Polri, BPBA, Basarnas, instansi pemerintah daerah, relawan, hingga masyarakat. Sinergi adalah kunci,” jelasnya.
Lebih lanjut, Pangdam IM mengingatkan bahwa prajurit TNI tidak hanya harus cepat dan tepat dalam bertindak, tetapi juga wajib menunjukkan kepedulian, empati, dan perlakuan yang baik terhadap masyarakat terdampak bencana.
“Kehadiran TNI harus membawa rasa aman, memberikan harapan, dan menumbuhkan kenyamanan bagi warga yang sedang menghadapi musibah,” tuturnya.






