Di Kabupaten Sikka, kegiatan trauma healing juga dilaksanakan bersama Dinas Sosial, sementara kebutuhan psikologis di kabupaten lainnya terus didata.
“Data ini terus kami perbarui. Kondisi di setiap kabupaten berbeda, sehingga tim bersama Polda dan stakeholder melakukan pendataan agar personel trauma healing ditempatkan di titik yang memang membutuhkan,” ujar Trunoyudo.
Pemulihan Tidak Hanya Soal Kebutuhan Fisik
Di Manggarai, kegiatan trauma healing berjalan beriringan dengan pelayanan kebutuhan dasar masyarakat.
Sebelum pendampingan psikologis, personel Satgas SAR Korbrimob memberikan pelayanan sarapan pagi kepada masyarakat di Posko Pengungsian Barang Kolong. Kehadiran personel di lokasi menjadi bagian dari upaya memberikan rasa aman sekaligus membantu memenuhi kebutuhan warga selama berada di pengungsian.
Trunoyudo menegaskan bahwa pemulihan masyarakat membutuhkan proses dan tidak berhenti setelah tahap pencarian maupun evakuasi selesai.
“Operasi kemanusiaan tidak selesai ketika korban sudah dievakuasi. Pemulihan juga membutuhkan waktu. Karena itu, Polri akan terus mendampingi masyarakat, termasuk melalui trauma healing, sampai kondisi mereka berangsur pulih dan kembali merasa aman.”
Polri akan terus memperbarui data dan memperluas pelayanan trauma healing berdasarkan kebutuhan di lapangan, dengan perhatian khusus kepada anak-anak, lansia, keluarga korban dan kelompok rentan lainnya.
Sejak hari kedua gempa hingga hari ini, Polri terus hadir. Bukan hanya mencari dan menyelamatkan, tetapi juga mendampingi, mendengarkan dan membantu masyarakat Flores bangkit dari trauma bencana.
Karena pemulihan bukan hanya tentang kembali berdiri, tetapi juga kembali merasa aman.






