Jambore Aksara Lahirkan Generasi Muda Pecinta Bahasa Aceh

Liputan07 | Aceh Besar– Komunitas Tikar Pandan sukses menyelenggarakan Jambore Aksara selama dua hari di Sekolah Adat Sri Musim, Lampuuk, Aceh Besar. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Bantuan Pemerintah Bidang Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2026 melalui skema Pelestari Bahasa dan Sastra Daerah untuk Fasilitasi Komunitas yang didukung oleh Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Sebanyak 40 peserta yang terdiri atas pelajar SMA, mahasiswa, dan masyarakat umum mengikuti kegiatan tersebut. Selain pelatihan aksara Aceh, peserta juga mengikuti berbagai aktivitas seni dan budaya. Malam puncak kegiatan dimeriahkan melalui Piasan Seni Aceh yang menampilkan pertunjukan dari peserta Jambore Aksara serta sejumlah talent undangan.

Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Dr. Dora Amalia, berharap Jambore Aksara mampu melahirkan generasi baru pecinta bahasa ibu atau Tunas Bahasa Ibu. Menurutnya, pelestarian bahasa dan aksara daerah harus dimulai sejak usia sekolah karena anak-anak merupakan generasi penerus yang akan menjaga keberlangsungan bahasa daerah di masa depan.

Dalam sambutannya, Dr. Dora Amalia juga mengapresiasi konsep kegiatan yang dikemas di ruang terbuka. Menurutnya, suasana tersebut memberikan ruang yang lebih leluasa bagi peserta untuk berekspresi, menyatu dengan alam, sekaligus memunculkan inspirasi dalam mempelajari bahasa dan aksara Aceh.

“Kami berharap dari kegiatan ini akan tumbuh komunitas-komunitas baru yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian bahasa dan aksara daerah,” ujarnya, Sabtu (25/7/2026).

Selain mendorong lahirnya komunitas pelestari bahasa, Dr. Dora mengungkapkan bahwa Balai Bahasa Provinsi Aceh saat ini sedang melakukan kajian dan analisis terhadap ejaan bahasa Aceh. Oleh karena itu, ia berharap Jambore Aksara menjadi awal lahirnya sinergi yang lebih luas antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga adat, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan dalam upaya mengembangkan serta melestarikan bahasa Aceh.

Di akhir sambutannya, Dr. Dora menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan peserta yang telah menyukseskan kegiatan tersebut. Ia berharap kolaborasi lintas sektor terus diperkuat agar gerakan pelestarian bahasa dan aksara Aceh dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua DPRK Aceh Besar, Abdul Mucthi, menilai kegiatan seperti Jambore Aksara perlu mendapat perhatian dan dukungan pemerintah daerah. Menurutnya, generasi muda membutuhkan lebih banyak ruang belajar nonformal untuk mengenal adat, budaya, dan bahasa Aceh sebagai bahasa ibu.

Pos terkait