Namun, menurutnya, hanya delapan kecamatan yang sudah teraliri sistem irigasi, sedangkan lainnya masih mengandalkan tadah hujan. “Yang lebih pahit lagi, saat air dikuasai oleh segelintir orang, yang menahan air di atas tanpa peduli nasib petani di bawah. Ini realitas yang semoga bisa adik-adik bantu selesaikan saat turun ke lapangan nanti,” katanya.
Syech juga menyoroti persoalan pemasaran hasil pertanian dan produk UMKM. “Petani kita itu semangat menanam, tapi saat panen mereka trauma. Hasil melimpah, tapi tak tahu dijual ke mana. Begitu juga di Lhoknga, hampir semua rumah bikin kue lebaran, tapi akhirnya rugi karena tak tahu cara memasarkannya,” ucapnya.
Ia pun berharap mahasiswa KKN bisa hadir sebagai agen perubahan, membantu menyambungkan produk lokal dengan pasar yang lebih luas, sekaligus memberdayakan masyarakat desa secara berkelanjutan.
“KKN bukan sekadar kegiatan akademik. Ini adalah panggilan pengabdian. Adik-adik semua punya peran untuk membuktikan bahwa ilmu itu harus hadir di tengah masyarakat,” pesannya.
Dengan mengusung tema “Revitalisasi dan Komersialisasi Produk Unggulan Gampong”, kegiatan KKN tahun ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga jalan pengabdian konkret dalam mendorong transformasi ekonomi dan sosial masyarakat Aceh Besar.
Dalam kegiatan tersebut, Wakil Ketua LPPM Bidang Pengabdian kepada Masyarakat USK, Dra. Sulatri, M.Si, menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Bupati Aceh Besar atas partisipasinya dalam memberikan pembekalan. Hadir pula Kepala Pusat Pengembangan dan P3KKN USK, Drs. Zulfitri, Kadis PMG Aceh Besar Carbaini S.Ag, Kepala Bappeda Aceh Besar Rahmawati S.Pd, M.Pd., serta Plt Kepala Dinas Kesehatan Aceh Besar, para dekan serta para mahasiswa KKN.(**)






