Musywil ICMI Aceh VIII, Dr Taqwaddin: Cendekiawan Harus Santun dan Bekerja untuk Aceh Mulia

Liputan07 | Banda Aceh — Ketua Majelis Pengurus Wilayah Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (MPW ICMI) Aceh, Dr Taqwaddin, mengajak para cendekiawan Muslim Aceh tidak hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, tetapi juga menghadirkan kesantunan, keteladanan dan kerja nyata untuk membangun kesejahteraan masyarakat.

Hal itu disampaikan Taqwaddin dalam sambutannya pada pembukaan Musyawarah Wilayah (Musywil) VIII ICMI Aceh di Hotel Azana Oasis Banda Aceh, Sabtu (12/9/2026).

“Cendekiawan adalah orang-orang cerdas yang santun,” kata Taqwaddin.

Menurutnya, kecendekiawanan tidak cukup diukur dari gelar akademik maupun kemampuan berbicara. Seorang cendekiawan harus mampu mengubah ilmu dan gagasannya menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Karena itu, ia berharap para cendekiawan Muslim Aceh ikut bekerja membantu mewujudkan Aceh yang mulia sekaligus membangun kesejahteraan masyarakat.

Aceh dan Belanda

Dalam sambutannya, Taqwaddin juga mengangkat sejarah panjang Aceh dalam hubungan internasional.

Ia mengingatkan bahwa Kesultanan Aceh merupakan kekuatan politik penting di kawasan Asia Tenggara sejak berabad-abad lalu. Pada abad ke-17, Aceh berkembang sebagai pusat perdagangan sekaligus pusat intelektual Islam di Asia Tenggara. UNESCO juga mencatat Hikayat Aceh sebagai sumber penting mengenai kehidupan Kesultanan Aceh pada abad ke-17. (UNESCO⁠)

Taqwaddin menyampaikan bahwa Kerajaan Aceh lebih tua daripada Kerajaan Belanda. Ia juga menyebut Aceh sebagai kerajaan pertama yang mengakui kemerdekaan Belanda pada 1603.

Pernyataan mengenai pengakuan Aceh terhadap Belanda tersebut memang terdapat dalam sejumlah tulisan sejarah populer dan kajian yang membahas hubungan awal Aceh-Belanda.

“Kerajaan Aceh lebih tua dari Kerajaan Belanda. Aceh adalah kerajaan pertama yang mengakui kemerdekaan Belanda pada 1603,” ujar Taqwaddin.

Ia kemudian menceritakan bahwa pernah ada seorang profesor berkebangsaan Belanda yang menyampaikan permintaan maaf melalui Ketua ICMI Aceh terkait sejarah penjajahan Belanda terhadap Aceh.

“Ada seorang profesor berkebangsaan Belanda meminta maaf melalui Ketua ICMI Aceh. Beliau mengatakan, seharusnya Belanda tidak berperang dengan Aceh,” ungkapnya.

Taqwaddin mengatakan sejarah tersebut seharusnya menjadi pelajaran bagi generasi sekarang. Kejayaan dan kedaulatan Aceh pada masa lalu harus menjadi energi untuk membangun Aceh masa kini, bukan sekadar nostalgia.

Sejarah juga mencatat bahwa hubungan Aceh dan Belanda kemudian berubah menjadi konflik panjang. Perang Aceh melawan Belanda berlangsung sejak 1873 dan menjadi salah satu perang kolonial terpanjang dan paling berat yang dihadapi Belanda di Nusantara. (Scholar Hub⁠)

Pos terkait