Produksi Minyak Berjalan, Warga Tanjung Seumantoh Menanti Pemulihan

[Agussalim. Tokoh Masyarakat Aceh Tamiang]

“Kami tidak meminta hal yang berlebihan dari aktivitas tambang di kampung kami. Kami hanya minta lapangan itu dibersihkan agar anak-anak bisa kembali berolahraga dan terhindar dari kegiatan negatif.”

  • Fasilitas olahraga belum pulih, akses jalan mengalami kerusakan, sementara warga berharap keterlibatan tenaga kerja lokal diperhatikan

AKTIVITAS pengeboran minyak di Kampung Kebun Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, terus berjalan. Sejumlah pekerjaan yang dilakukan melalui perusahaan mitra atau vendor Pertamina disebut menghasilkan produksi minyak sekitar 100 barel per hari dari tiga sumur.

Namun, di tengah aktivitas tersebut, sebagian masyarakat sekitar masih menunggu penyelesaian sejumlah persoalan yang mereka rasakan sebagai dampak kegiatan operasional. Keluhan terutama berkaitan dengan kondisi fasilitas olahraga, kerusakan jalan, serta terbatasnya kesempatan kerja bagi masyarakat setempat.

Persoalan itu tidak serta-merta membuat warga menolak aktivitas industri minyak. Mereka justru berharap kegiatan operasi dapat berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kondisi lingkungan dan sosial di sekitar wilayah operasi.

Lapangan Sepak Bola Belum Kembali Digunakan

SALAH satu fasilitas yang menjadi perhatian warga adalah lapangan sepak bola di kompleks Pertamina setempat.

Lapangan tersebut selama ini digunakan sebagai tempat kegiatan Sekolah Sepak Bola (SSB) bagi anak-anak dan remaja. Bagi warga, keberadaan fasilitas itu penting karena menjadi salah satu sarana kegiatan olahraga bagi generasi muda.

Setelah banjir yang terjadi sekitar sepuluh bulan lalu, lapangan tertutup endapan lumpur. Material tersebut kemudian mengering dan mengeras sehingga lapangan belum dapat digunakan secara optimal.

Warga mengatakan sebelumnya telah ada pembicaraan mengenai rencana pembersihan lapangan. Namun, sampai Rabu (18/8/2026), pekerjaan tersebut belum terlaksana.

Tokoh masyarakat Aceh Tamiang, Agus Salim, mengatakan warga tidak menuntut hal yang berlebihan. Mereka hanya berharap fasilitas yang selama ini digunakan anak-anak dapat segera dikembalikan ke kondisi semula.

“Kami tidak meminta hal yang berlebihan dari aktivitas tambang di kampung kami. Kami hanya minta lapangan itu dibersihkan agar anak-anak bisa kembali berolahraga dan terhindar dari kegiatan negatif. Namun, janji Pertamina selama sepuluh bulan ini belum ada buktinya.”

Menurut Agus, persoalan tersebut lebih berkaitan dengan harapan warga agar tindak lanjut terhadap dampak kegiatan operasional dapat dilakukan secara jelas.

Pos terkait